Rabu, 08 September 2010

“Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Struktur Atom kelas X SMA Cerdas Murni Medan Pada Tahun Pelajaran 2009/2010".

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Perubahan dan perkembangan aspek kehidupan perlu ditunjang oleh kinerja yang bermutu tinggi. Pendidikan yang berkualitas sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya manusia yang cerdas serta mampu bersaing di era globalisasi. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat besar dalam membentuk karakter, perkembangan ilmu dan mental seorang anak, yang nantinya akan tumbuh menjadi seorang manusia dewasa yang akan berinteraksi dan melakukan banyak hal terhadap lingkungannya, baik secara individu maupun sebagai makhluk sosial.
Mengacu kepada sistem pendidikan Nasional Undang–Undang No. 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (Syah, M. 2003:1)
Jika menginginkan pendidikan terlaksana secara teratur, berbagai elemen (komponen) yang terlibat dalam kegiatan pendidikan perlu dikenali. Pendidikan dapat dilihat dari hubungan elemen peserta didik (siswa), pendidik (guru), dan interaksi keduanya dalam usaha pendidikan, seperti yang dinyatakan oleh Sukadi (2006:45) yang mengemukakan bahwa efektivitas pembelajaran sangat ditentukan oleh pola komunikasi multi trafic (multi trafic communication). Dalam pola komunikasi multi trafic ini, komunikasi terjadi antara guru degan siswa dan siswa dengan siswa.    
 Dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien serta mengena pada tujuan yang  diharapkan. Salah satu langkah untuk memenuhi strategi itu ialah harus menguasai teknik–teknik penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar. Salah satu metode pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip konstruktivistik adalah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Model pembelajaran ini mengacu pada metode pembelajaran dimana peserta didik bekerjasama dalam kelompok kecil dan saling membantu dalam belajar (Asriyanti:http://one.Indoskripsi.com/click/6452/0).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Nainggolan (2008) dan Sitanggang (2008) mengatakan bahwa hasil belajar siswa pada pokok bahasan struktur atom dan bunyi mengalami peningkatan hasil belajar sebesar 18,42% dan 41,71 menjadi 72,29 serta nlai pengaruh pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap hasil belajar siswa adalah 8,16%. Penelitian lain yang dilakukan oleh Yuliana (2008) pada pokok bahasan struktur atom menyatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan pada pembelajaran kooperati tipe NHT terhadap hasil belajar siswa. Hal inidapat dilihat dari harga gain rata-rata kelas eksperimen 0,662 dan kelas kontrol 0,464.   
Kimia adalah ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana gejala–gejala alam yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika dan energitika zat. Oleh sebab itu, mata pelajaran kimia di SMA mempelajari segala sesuatu tentang zat yang meliputi komposisi, struktur dan sifat, perubahan dan  energitika zat yang melibatkan keterampilan dan penalaran.
Dari uraian tersebut diatas, timbul sebuah pertanyaan apakah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan strukur atom di SMA? Untuk menjawab pertanyaan diatas maka dibuatlah suatu penelitian yang berjudul “Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Struktur Atom kelas X SMA Cerdas Murni Medan Pada Tahun Pelajaran 2009/2010.

1.2. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dalam peneltian ini adalah :
1.     Cara yang digunakan guru dalam mengajar masih ada yang monoton
2.    Kurangnya minat belajar siswa terhadap materi kimia
3.    Kurangnya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar 

1.3.     Rumusan Masalah
Dalam hal ini yang menjadi rumusan masalah adalah:
1.     Bagaimanakah aktifitas belajar siswa dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT?
2.    Apakah ada pengaruh yang signifikan antara kelas eksperimen yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dibandingkan dengan kelas kontrol yang diajar dengan metode konvensional terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan struktur atom?
3.    Seberapa besar pengaruh pembelajaran kooperatif tipe NHT  terhadap hasil belajar kimia siswa pada pokok bahasan Struktur atom kelas X SMA Cerdas Murni Medan T.P 2009/2010

1.4.     Batasan Masalah
Peneliti membatasi masalah sebagai berikut:
1.    Pokok bahasan struktur atom
2.     pengaruh pembelajaran pembelajaran kooperatif tipe NHT
3.    Hasil belajar siswa pada pokok bahasan struktur atom

1.5.     Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.    Mengetahui aktifitas belajar siswa dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT
2.    Mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan metode konvensional terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan struktur atom
3.    Mengetahui seberapa besarkah pengaruh antara siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan siswa yang diajar dengan metode konvensional terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan struktur atom

1.6. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang dapat diharapkan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Sebagai informasi bagi guru tentang gambaran hasil belajar siswa pada pokok bahasan struktur atom melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT
2.    Sebagai bahan masukan bagi peneliti sebagai calon guru tentang model pembelajaran yang akan digunakan dalam melaksanakan tugas mengajar 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kerangka Teoritis
2.1.1. Pembelajaran
    Pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum yang menuntut keaktifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan, Saylor dalam Mulyasa, E (2006:117).
    Dalam hal ini, guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat ketika peserta didik belum dapat membentuk kompetensi dasar, apakah kegiatan pembelajaran dihentikan, diubah metodenya, atau mengulang dulu pembelajaran yang lalu. Guru harus menguasai prinsip-prinsip pembelajaran, pemilihan dan penggunaan media pembelajaran, pemilihan dan penggunaan metode mengajar, keterampilan menilai hasil-hasil belajar peserta didik, serta memilih dan menggunakan strategi atau pendekatan pembelajaran.
2.1.2. Hasil Belajar
    Robert M. Gagne dalam Slameto (1991:93) mengelompokkan kondisi-kondisi belajar (system lingkungan belajar) sesuai dengan tujuan-tujuan belajar yang ingin dicapai.
    Gagne mengemukakan delapan macam yang kemudian disederhanakan menjadi lima macam kemampuan manusia yang merupakan hasil belajar, sehingga pada gilirannya, membutuhkan sekian macam kondisi belajar (sistem lingkungan belajar) untuk pencapaiannya.
Kelima macam kemampuan hasil belajar tersebut adalah:
a.    Keterampilan intelektual (yang merupakan hasil belajar terpenting dari sistem lingkungan skolastik);
b.    Strategi kognitif, mengatur “cara mengajar” dan berpikir seorang didalam arti seluas-luasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalah;
c.    Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta. Kemampuan ini umumnya dikenal dan tidak jarang;
d.    Keterampilan motorik yang diperoleh di sekolah, antara lain keterampilan menulis, mengetik, menggunakan jangka dan sebagainya;
e.    Sikap dan nilai, berhubungn dengan arah serta intensitas emosional yang dimiliki seseorang, sebagaimana dapat dsimpulkan kecenderungannya bertingkah laku terhadap orang, barang atau kejadian.
Kelima macam hasil belajar tersebut diatas menyarankan, bahkan mempersyaratkan kondisi-kondisi belajar tertentu sehingga dapat dijabarkan strategi-strategi  belajar-mengajar yang sesuai.
2.1.3. Pembelajaran Kooperatif
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Menurut Ngalim purwanto: belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku,yang terjadi sebagai hasil dari suatu latihan atau pengalaman sedangkan menurut Djamarah (1999) belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik.
Pembelajaran koperatif merupakan pendekatan belajar dimana siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 atau 6 orang siswa. Mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
Pembelajaran kooperatif bergantung pada kelompok-kelompok kecil pembelajaran. Meskipun isi dan petunjuk yang diberikan oleh pengajar mencirikan bagian dari pengajaran, namun pembelajaran kooperatif secara berhati-hati menggabungkan kelompok-kelompok kecil sehingga anggota-anggotanya dapat bekerja sama untuk memaksimalkan pembelajaran dirinya dan pembelajaran satu sama lainnya. Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman yang lain. Ketika kerja sama ini berlangsung tim menciptakan atmosfir pencapaian, dan selanjutnya pembelajaran ditingkatkan. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah dalam pelajaran tertentu siswa sebagai kelompok yang berupaya untuk menemukan sesuatu. Kemudian setelah jam pelajaran habis siswa dapat bekerja sebagai kelompok-kelompok diskusi dan setelah itu siswa akan mendapat kesempatan bekerja sama untuk memastikan  bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu yang telah dipelajarinya untuk persiapan kuis, bekerja dalam suatu format belajar kelompok
Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1.    Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2.    Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
3.    Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masin-masing individu.

    Terdapat 6 langkah utama didalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif adalah sebagaimana terlihat pada tabel 2.1
Tabel 2.1. Langkah – langkah Pembelajaran Kooperatif
Fase     Tingkah laku Guru
Fase 1:
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa    Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase 2:
Menyajikan informasi    Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3:
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar    Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4:
Membimbing kelompok bekerja dan belajar    Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Fase 5:
Evaluasi     Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok memprensentasikanhasil kerjanya
Fase 6:
Memberikan penghargaan    Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
(Ibrahim,2002)
2.1.4. Metode Pembelajaran Kooperatif
    Ada empat metode pembelajaran kooperatif. Disini akan diuraikan secara ringkas masing-masing pembelajaran tersebut (Nurhadi,2004).
1.    Metode STAD (Student Teams Acherevement Division)
Merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dimana siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4-5 orang dan setiap kelompok haruslah heterogen. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja didalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dan pada saat kuis ini mereka tidak boleh saling membantu. Skor yang didapat hingga mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau penghargaan lain.
2.    Metode Jig Saw
Dalam penerapan jigsaw, siswa dibagi berkelompok dengan anggota kelompok 5 atau 6 orang heterogen. Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi dalam beberapa sub bab. Setiap anggota kelompok masing-masing ditugaskan untuk membaca sub bab yang berbeda-beda sesuai yang ditugaskan oleh guru dan bertanggung jawab untuk mempelajari bagian yang diberikan itu. Kelompok siswa yang sedang mempelajari sub bab ini disebut dengan kelompok ahli. Setelah itu para siswa kembali ke kelompok asal meraka dan bergantian mengajarkan kepada teman sekelompoknya tentang hasil diskusinya dikelompok ahli. Demikian dilakukan oleh semua anggota kelompok atas kajian dikelompok ahli. Satu-satunya cara siswa dapat belajar sub bab lain selain sub bab yang sudah dipelajari adalah mendengarkan secara sungguh-sugguh terhadap teman satu kelompok mereka. Setelah selesai pertemuan dan diskusi dikelompokkan asal siswa diberikan kuis secara individu tentang materi ajar.
3.    Metode GI (Group Investigation)
Dikembangkan oleh Harbet Thalen, diperluas dan diperbaiki oleh Shavin dkk pembelajaran kooperatif GI pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang rumit yaitu mengajar siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik. Pengajar membagi kelompok dengan anggota 5 atau 6 yang heterogen. Untuk beberapa kasus , kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki kemudian menyiapkan dan mempersentasikan laporannya pada seluruh kelas.
4.    Metode Struktural
Dikembangkan oleh Spancer Kagen dkk, metode ini menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Untuk meningkatkan penguasaan isi akademik ada struktur yang memiliki tujuan umum dan ada pola struktur yang tujuannya mengajarkan keterampilan sosial. Think pair share dan Numbered Head Together adalah struktur yang dapat digunakan untuk meningkatkan penguasaan akademik.
a.    Think Pair Share (TPS)
    Dikembangkan oleh Frank lyman dkk dari Universitas Maryland yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Metode ini memberikan pada para siswa waktu untuk berfikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain
b.    Numbered Head Together (NHT)
Dikembangkan oleh Spancer Kagan (1993) dengan melibatkan para siswa dalam mereviw bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut.
2.1.5. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Numbered Heads Together (NHT) merupakan salah satu teknik dari model pembelajaran kooperatif. NHT adalah suatu pendekatan yang dikembangkan oleh Spencer Kagen pada tahun 1993, untuk melibatkan siswa dalm kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Kelebihan dari teknik ini adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja mereka. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik (Lie 2008:59).
    NHT atau penomoran berfikir bersama termasuk dalam metode struktural pada pembelajaran kooperatif yang melibatkan para siswa dalam melihat kembali bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman siswa mengenai isi pelajaran tersebut. Sebagai pengganti pertanyaan langsung kepada seluruh kelas, pada tipe NHT, guru menggunakan strutur 4 langkah yaitu sebagai berikut:
1.    Penomoran (Numbering)
        Penomoran pada siswa dimaksudkan agar lebih mudah ketika siswa dipanggil untuk menjawab pertanyaan sebagai perwakilan kelompoknya. Apabila jawaban dari siswa yang nomornya dipanggil itu benar, maka nilai yang diperoleh adalah nilai yang diberikan kepada semua anggota kelompok. Melalui penomoran siswa, diharapkan lebih bertanggungjawab atas dirinya dan kolompoknya terhadap pemahaman materi karena setiap siswa mempunyai peluang dan kesempatan yang sama untuk dipanggil dan mewakili kelompoknya dalam memberikan jawaban. Penomoran dilakukan guru dengan membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3-6 orang. Pengelompokan siswa harus heterogen. Keheterogenan mencakup jenis kelamin, ras, agama dan tingkat kemampuan (tinggi, sedang, rendah). Setelah itu setiap siswa diberi nomor sehingga setiap siswa dalam kelompok memiliki nomor yang berbeda.
2.    Pengajuan pertanyaan (Questioning)
    Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa, pertanyaan dapat bervariasi dari yang amat spesifik hingga berbentuk arahan. Pertanyaan dalam interaksi belajar mengajar adalah penting karena dapat menjadi perangsang yang mendorong siswa untuk berfikir dan belajar membangkitkan pengertian baru. Melalui pertanyaan guru dapat menyelidiki penguasaan siswa, mengarahkan dan menarik perhatian siswa, mengubah pendirian siswa atau prasangka yang keliru.
    Suatu pertanyaan yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.    Kalimatnya jelas dan singkat
b.    Tujuannya jelas, tidak terlalu umum dan luas
c.    Setiap pertanyaan hanya untuk satu masalah
d.    Mendorong anak untuk berfikir
e.    Jawaban yang diharapkan bukan sekedar ya atau tidak
f.    Bahasa dalam pertanyaan dikenal baik oleh siswa
g.    Tidak menimbulkan tafsiran ganda

Ada beberapa teknik dalam menyampaikan pertanyaan didepan kelas ialah sebagai berikut:
a.    Mula-mula tunjukkan pertanyaan kepada seluruh kelas agar semua siswa    turut berfikir dan merumuskan jawaban dalam hati masing-masing
b.    Berilah kesempatan yang sama pada setiap siswa untuk menjawab 
c.    Berilah waktu yang cukup untuk siswa berpikir
d.    Suasana dalam Tanya jawab hendaknya jangan tegang
e.    Apabila ada siswa yang tidak dapat menjawab, alihkan pertanyaan pada siswa yang lain agar siswa tersebut tidak menjadi malu dan membuang-buang waktu
f.    Pertanyaan yang diajukan hendaknya mengenai pokok-pokok yang sesuai dengan tujuan instruksional yang telah ditetapkan
g.    Untuk menarik perhatian kelas dan melatih disiplin, pertanyaan dapat diajukan pada siswa yang tidak memperhatikan. Sardiman dalam Sitanggang (2008).
3.    Berfikir Bersama (Heads Together)
Semua siswa berpikir bersama dan menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu serta meyakinkan setiap anggota mengetahui jawaban itu. Pada tahap inilah siswa mengadakan diskusi dengan teman sekelompoknya. Setiap siswa dalam kelompoknya diharapkan mempunyai jawaban/pendapat sendiri atas pertanyaan yang diberikan. Jawaban/pendapat itu kemudian di diskusikan hingga setiap siswa dalam kelompok tersebut memiliki jawaban yang sama. Siswa yang tergolong pintar/sudah paham terhadap materi tersebut dapat memberikan pengetahuannya pada siswa yang kurang mengerti, sehingga tercipta saling ketergantungan antar siswa.
4.    Pemberian jawaban (Answering)
Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengacungkan tangannya dan menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Jika jawaban yang diberikan salah atau kurang tepat maka guru dapat memberikan arahan untuk pembenaran jawaban. Penghargaan juga diberikan bagi kelompok yang memberi jawaban yang benar.
Kelebihan pembelajaran kooperatif tipe NHT:
1.    Setiap siswa menjadi siap semua.
2.    Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
3.    Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan pembelajaran kooperatif tipe NHT:
1.    Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
2.    Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.
2.1.6. Pokok Bahasan Struktur Atom
A. Perkembangan Model Atom
    Seorang filsafat yunani yang bernama Democritus berpendapat bahwa Atom adalah bagian terkecil dari suatu unsur yang tidak dapat di bagi lagi namun J.J.Thomson mengamati elektron. Dia menemukan bahwa semua atom berisi elektron yang bermuatan negatif. Oleh karena atom bermuatan netral, maka setiap atom harus berisi partikel bermuatan positif agar dapat menyeimbangkan muatan negatif dari elektron.
Rutherford melakukan penelitian melalui sinar α pada lempeng emas. Hasil pengamatannya tersebut dikembangkannya dalam hipotesis model atom Rutherford:
a.    Atom terdiri atas yang bermuatan (+) dan didalam inti atom terpusat massa atom
b.    Diluar inti atom terdapat elektron yang mengelilingi inti atom dan jumlahnya sama dengan muatan inti supaya atom itu bersifat netral. Model atom ini belum dapat menjelaskan dimana letak elektron dan cara rotasinya terhadap inti atom.
Pada tahun 1913 Niels Bohr mengemukakan pendapatnya bahwa elektron bergerak mengelilingi inti atom pada lintasan-lintasan tertentu disebut kulit atom. Thomson dan Milikan yang disebut mekanika kuantum dan selanjutnya dibuktikan oleh Heisenber dan Schodinger.
B.  Partikel Dasar Penyusun Atom
a. Elektron     
Berdasarkan percobaan Thomson dan Milikan, massa elektron dapat dihitung sebagai berikut:
1. Dari percobaan Thomson: 
2. Dari percobaan Milikan: e = 1,69 x 10-19  Coulomb yang diberi tanda +1
3. Massa elektron: m= 9,11 x 10-28 gr

b.    Inti Atom
1. Proton
Eugene Goldstein 1886 melakukan percobaan dengan menggunakan tabung sinar katode. Dari percobaannya itu dia menemukan proton dengan massa 1 proton = 1,6726 x 10 -24 gr (=sma) dan muatan 1 proton 1,6022 x 10-19 Coulomb dan diberi tanda muatan -1.
2. Neutron
    Pada tahun 1932 James Chadwick melakukan percobaan yang menembaki inti atom berilium dengan partikel alfa dan dihasilkan radiasi partikel netral (tidak bermuatan) yang massanya hampir sama dengan proton. Partikel ini disebut neutron dan merupakan partikel penyusun inti atom.
C.  Nomor Atom dan Nomor Massa
Berdasarkan percobaan Mosley melalui pengukuran panjang gelombang sinar X. menyimpulkan bahwa jumlah proton dalam inti atom adalah nomor atom. Karena massa elektron sangat kecil, massa inti atom merupakan massa atom disebut nomor massa. Berarti suatu unsur X dengan nomor massa A (A= proton + neutron) dan nomor atom Z (Z = jumlah proton) maka:
X  
Keterangan : X = lambang atom unsur
                      A = nomor massa
                      Z = nomor atom
1. Isotop
Isotop adalah atom-atom yang mempunyai nomor atom sama, tetapi nomor massa berbeda.
2. Isobar
Isobar adalah atom-atom yang nomor atomnya berbeda, (unsur yang berbeda) tetapi nomor massanya sama.
3. Isoton
Isoton adalah atom-atom dari unsur yang berbeda, tetapi jumlah neutronnya sama.
D. Konfigurasi Elektron dan Elektron Valensi
Niels bohr mengumumkan postulatnya bahwa elektron bergerak mengelilingi inti atom pada lintasan-lintasan tertentu. Lintasan elektron tersebut disebut kulit elektron. Kulit yang letaknya paling dekat ke inti atom disebut kulit pertama dan memiliki energi terendah, n melambangkan nomor kulit (n = 1,2,3,…,). Semakin tinggi nilal n, semakin tinggi pula tinglat energinya, kulit pertama disebut kulit K, kulit kedua disebut kulit L dan seterusnya. 
Setiap kulit memiliki “daya tampung” elektron yang berbeda. Kulit ke-1 (n=1) atau kulit K memiliki jumlah elektron maksimum 2, kulit L (n=2) memiliki kapasitas elektron maksimum 8, dan kulit M kapasitas elektronnya 18.

n = 1 elektron maksimumnya 2 = 2 x 12 
n = 2 elektron maksimumnya 8 = 2 x 2 2 
n = 3 elektron maksimumnya  18 = 2 x 32 
kulit ke-n elektron maksimumnya  = 2 x n2 
Penyusun elektron dikulit atom berdasarkan posisi tingkatan kulit elektron disebut konfigurasi Elektron. Pada saat menyusun konfigurasi elektron, elektron yang terdapat pada kulit terluar disebut Elektron Valensi. Elektron ini terlibat langsung dalam pembentukan senyawa.
(Kimia SMA Kelas X : 2006 )
2.2    Hipotesis
    Berdasarkan teori dan kerangka konseptual diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah:
a.    Hipotesis verbal
Hipotesis Nol (H0)            :    Tidak terdapat pengaruh yang signifikan pembelajaran kooperatif tipe NHT untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok struktur atom kelas X SMA Cerdas Murni Medan
Hipotesis alternatif  (Ha)     :    Ada pengaruh yang signifikan pembelajaran kooperatif tipe NHT untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok struktur atom kelas X SMA Cerdas Murni Medan
b.    Hipotesis statistik
    Ho :   = 0
Ha :      0

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
    Penelitian ini dilaksanakan di SMA Cerdas Murni Medan pada bulan Juli-Agustus 2010.
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Cerdas Murni Medan sebanyak 3 kelas yang terdiri dari 40 orang satu kelas.
    Sampel
Dari keseluruhan populasi yang terdiri dari siswa kelas XI SMA Cerdas Murni Medan yang terdiri dari 3 kelas diambil sampel secara acak sebanyak 2 kelas yang terdiri dari 80 orang.
3.3. Variabel Penelitian
1.    Variabel bebas     : Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together.
2.    Variabel terikat     : Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Struktur Atom Di Kelas X.
3.4. Jenis dan Desain Penelitian.
1.    Jenis Penelitian.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian quasi eksperimen, yaitu merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada subjek yaitu siswa.
2. Desain Penelitian.
Penelitian ini melibatkan dua kelas yang diberi perlakuan yang berbeda. Untuk mengetahui hasil belajar kimia siswa dilakukan dengan memberikan tes pada kedua kelas sebelum dan sesudah diberi perlakuan.
Rancangan penelitian ini sebagai berikut :
Tabel 3.1 : Two Group Pretest – Posttest Design (Arikunto, 2005 )
Kelas    Pretes    Perlakuan    Postes
Eksperimen    T1    X1    T2
Kontrol    T1    X2    T2
Keterangan :
X1   =    Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together pada pokok bahasan Struktur Atom
X2  =    Pembelajaran tanpa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together tetapi menggunakan model Konvensional pada pokok bahasan Struktur Atom
T1    =    Pretes diberikan kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol sebelum perlakuan. Tes yang diberikan berupa tes hasil belajar pada pokok bahasan  Struktur Atom
T2   =    Postes diberikan setelah perlakuan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

3.5. Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan
•    Menetapkan jadwal penelitian
•    Menyusun rencana / skenario pembelajaran
•    Menyusun dan memvalidkan instrument penelitian
2. Tahap Pelaksanaan
•    Menentukan kelas sampel dari populasi yang ada menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol
•    Memberikan test kemampuan awal (pre test)  pada kedua kelas
•    Melaksanakan PBM pada kedua kelas yaitu pada kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together dan pada kelas kontrol dengan menggunakan konvensional.
•    Uji kemampuan akhir (postest) untuk mengukur test belajar siswa setelah diberi perlakuan
•    Uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis pada kelas eksperimen dan kontrol
3. Menarik kesimpulan
3.6. Instrumen Penelitian.
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar siswa berjumlah 30 soal dalam bentuk pilihan berganda dengan lima pilihan (option) dan diberikan sebanyak 2 kali yaitu pretes dan posttest. Tabel spesifikasi tes hasil belajar sebagai berikut.

Tabel 3.2.: Tabel spesifikasi tes hasil belajar  pada pokok bahasan struktur atom
 Menentukan konfigurasi elektron dan elektron valensi     C1
C2
C3    15, 17, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, dan30    12 soal

Mengklasifikasikan unsur kedalam isotop, isobar dan isoton     C1
C2
C3    6, 4, 5, 14, 16, 18, 19 dan 20    8 soal
Menjelaskan perkemba-ngan teori atom untuk menunjukkan kelemahan dan kelebihan masing-masing teori atom berda-sarkan fakta eksperimen      C1
C2    1,2 dan 3    3 soal
Ket:
C1 = tingkat kesukaran soal mudah
C2 = tingkat kesukaran soal sedang
C3 = tingkat kesukaran soal sukar

3.7. Alat dan Teknik Pengumpulan Data
    Instrumen atau alat penelitian ini adalah tes hasil belajar pada materi pelajaran kimia. Tes ini diberi sebanyak dua kali yaitu tes kemampuan awal dan tes kemampuan akhir. Sebelum dilakukan penelitian, tes yang telah disusun terlebih dahulu diujicobakan diluar sampel untuk mengetahui kevaliditan, realibilitas, tingkat kesukaran dan daya beda. Data mengenai hasil belajar kimia diambil dengan menggunakan instrumen berupa tes soal-soal kimia dengan tipe pilihan berganda.
3.7.1. Validitas
    Sebelum instrument dikatakan valid apabila mampu mengikuti apa yang diinginkan. Validitas tes dicari dengan rumus korelasi produk moment yaitu :
Validitas tes dapat di cari dengan persamaan berikut:
                     (Arikunto,2006:72)
Dimana; rxy = Koefesien korelasi
       X =  Nilai untuk tiap item
       Y = Nilai total seluruh item
       N =  Jumlah responden
Kriteria : rhitung > rtabel , maka pertanyaan valid
       rhitung < rtabel , maka pertanyaan tidak valid
Dengan kriteria;
antara 0,8 s/d 1,00    : validitas sangat tinggi
antara 0,6 s/d 0,79    : validitas tinggi
antara 0,4 s/d 0,59    : validitas cukup
antara 0,2 s/d 0,39    : validitas rendah
antara 0,0 s/d 0,19    : validitas sangat rendah
3.7.2.  Reliabilitas
Reliabiilitas tes dapat ditentukan dengan rumus Kuder Richardson (KR-20),  (Arikunto,2005:100), yaitu:
 Di mana:
r11= reliabilitas tes secara keseluruhan
p   = proporsi subjek menjawab item yang benar
q   = proporsi subjek menjawab salah
Σpq= jumlah hasil perkalian antara p dan q
n   = banyaknya item
S  = standar deviasi tes ( standar deviasi adalah akar varians)
Kriteria reliabillitas ini kemudian dikonsultasikan dengan batas criteria :
0,800 – 1,000 kriteria sangat tinggi
0,600 – 0,800 kriteria tinggi
0,400 – 0,600 kriteria cukup
0,200 – 0,400 kriteria rendah
0,000 – 0,200 kriteria sangat rendah
Jika rhitung > rtabel maka disimpulkan reliabel
3.7.3. Taraf Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Untuk menentukan tingkat kesukaran masing-masing item tes maka digunakan rumus (Arikunto, 2002):

Dimana :
P = indeks kesukaran
B = jumlah siswa yang menjawab soal dengan benar
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
    Untuk menginterprestasikan taraf kesukaran item dapat digunakan kriteria sebagai berikut :
Soal dengan P = 0,00 samapai 0,30 adalah sukar
Soal dengan P = 0,300 sampai 0,70 adalah sedang
    Soal dengan P = 0,70 sampai 1,00 adalah mudah
3.7.4. Daya Pembeda
    Untuk menentukan daya pembeda masing-masing item tes ( Arikunto, 2005: 213 ), dapat digunakan rumus :

Dimana :
      D   = daya pembeda
      BA = banyaknya peserata kelompok atas yang menjawab soal dengan benar
              BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan   benar
      JA   = banyaknya peserta pada kelompok atas
       JB    = banyaknya peserta pada kelompok bawah
Klasifikasi daya pembeda ( Arikunto, 2005: 218 ) sebagai berikut :
D : 0,00 – 0,20 : buruk
D : 0,20 – 0,40 : cukup
D : 0,40 – 0,70 : baik
D : 0,70 – 1,00 : baik sekali
D : negatif, semuanya tidak baik, jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negatif sebaiknya dibuang saja.
3.8. Organisasi Pengolahan Data
    Dalam mengolah data, maka ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :
1)    Melaksakan tes pada kedua kelompok sampel
2)    Mentabulasikan data yang berhubungan dengan tes hasil belajar siswa dari kedua kelompok sampel
3)    Mencari nilai rata-rata dan standart deviasi
4)    Pemeriksaan uji normalitas data
5)    Pemeriksaan uji homogenitas varians
6)    Melakukan uji hipotesis dengan uji beda
3.9. Teknik Analisa Data
    Adapun teknik penganalisa data pada penelitian ini adalah :
1.    Kriteria penilaian tes
Penilaian yang digunakan antara lain:
86 – 100 = baik sekali(sangat tinggi)
71 – 85 = baik(tinggi)
56 – 70 = cukup(sedang)
41 – 55 = kurang(rendah)
<40    = sangat kurang(sangat rendah)
Menghitung nilai rata-rata dan Simpangan baku.
Untuk menghitung nilai rata-rata digunakan rumus:
                                   (Sudjana,1989,67)
Untuk menghitung simpangan baku (S) digunakan rumus:
                                                (Sudjana,1989,94)

2.    Uji Normalitas
    Data dalam penelitian ini berbentuk data nominal, maka digunakan uji Liliefors. Langkah – langkah yang dilakukan sebagai berikut :
1.    Pengamatan X1, X2,……., Xn dijadikan angka baku Z1, Z2,…….., Zn dengan menggunakan rumus :
                                                          (Sudjana, 2001 : 249)
Dimana :
        X  =  rata – rata nilai hasil belajar
        S  =  standar deviasi
2. Untuk bilangan baku dihitung dengan menggunakan daftar distribusi normal baku   dan kemudian dihitung peluang dengan rumus :
    F (Zi) = (Z  Zi)
3. Menghitung proporsi S (Zi) dengan rumus :

4. Menghitung selisih F (Zi) - S (Zi), kemudian menentukan harga mutlaknya.
5. Menentukan harga terbesar dari selisih harga mutlak [F(Zi) – S(Zi)] sebagai Lo. Untuk menerima atau menolak distribusi normal data penelitian dapatlah dibandingkan nilai Lo dengan nilai kritis L yang diambil dari daftar tabel dari uji Lilifors dengan taraf nyata 0,01 dengan kriteria pengujian :
Jika Lo < L maka sampel berdistribusi normal
Jika Lo > L maka sampel tidak berdistribusi normal
3.    Uji Homogenitas Data
    Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil varians homogen atau tidak, dengan rumus :
                                                              (Sudjana, 2001 : 249)
Dimana : S  = varians terbesar
        S  = varians terkecil
Dengan kriteria pengujian :
Jika Fhitung < Ftabel maka kedua sampel homogen
Jika Fhitung > Ftabel  maka kedua sampel tidak homogen
4. Pengujian Hipotesis
    Untuk menguji hipotesis diterima atau ditolak, dilakukan pengujian statistik dengan menggunakan uji- t     pihak kanan dengan  = 0,05 (Husaini dan Akbar, 2006) yaitu :
 
Dimana S adalah varians gabungan yang dihitung dengan rumus :   
Dimana :
t       = Harga t perhitungan
        = Nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas eksperimen
        = Nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas kontrol
n1    = Jumlah sampel kelas eksperimen
n2    = Jumlah sampel kalas kontrol
S2    = varians gabungan dua kelas
Hipotesis statistiknya adalah :


Kriteria pengujian adalah Ho diterima jika thitung   ttabel dan Ho ditolak jika thitung > ttabel berarti Ha diterima pada taraf  = 0,05, dimana ttabel didapat dari daftar distribusi t

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi., dan Supriono, (2004), Psikologi Belajar, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Arikunto, S., (2006), Prosedur Penelitian Pendekatan Praktek, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.

Asriyanti., (2008), Pengaruh Media Visual Dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Terhadap Hasil Belajar Biologis Siswa, Makassar: http://one.indoskripsi.com/click/6452/0

Djamarah, Bahri S., (1999) Prestasi Belajar Dan Kompetensi Dosen, Usaha Nasional, Surabaya

Isjoni., (2009), Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok, Penerbit Alfabeta, Bandung.

Ibrahim, M., (2002) Pembelajaran Kooperatif, Penerbit Universitas Negeri Surabaya, Surabaya

Lie, A., (2008), cooperative learning, penerbit PT. Gramedia Widiasrana Indonesia.

Mulyasa, E., (2006), Implementasi Kurikulum 2004, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Nurhadi., (2004), Kurikulum 2004 Pertanyaan Dan Jawaban, Penerbit PT.Grasindo, Jakarta

Nainggolan, L, P., (2008), Perbedaan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Dan Kelompok Diskusi Pada Pokok Bahasan Struktur Atom Kelas XI Di SMA N 1 Dolok Sanggul T.A. 2007/ 2008., Skripsi, FMIPA, Unimed Medan.

Prasetyo, B., dan Jannah,M,L., (2006), Metode Penelitian Kuantitatif, penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sitanggang, A, P., (2008), Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Bunyi Di Kelas VIII Sementara II SMP N 10 Medan T.P 2007/2008., Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan.

Slameto., (1991), Proses Belajar Mengajar Dalam Sistem Kredit Semester, Penerbit Bina Aksara, Jakarta.

Sudjana., (2001), Metoda Staistika, Penerbit Tarsito, Bandung.

Sukadi., (2006), Guru Powerfull Guru Masa Depan, Penerbit Kalbu, Bandung.

Syah, M., (2008), Psikologi Belajar, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Yuliana, I., (2008), Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Struktur atom Kelas XI SMA N 14 Medan T.A. 2008/2009., Skripsi, FMIPA, Unimed Medan.    





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar